Pendidikan Sriwijaya dan Majapahit: Agama, Ilmu, dan Toleransi
Pendidikan Sriwijaya dan Majapahit: Agama, Ilmu, dan Toleransi – Sejarah Nusantara kaya akan warisan pendidikan dan kebudayaan. Dua kerajaan besar yang menonjol dalam bidang ini adalah Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan ini tidak hanya dikenal karena kekuatan politik dan militernya, tetapi juga sebagai pusat pendidikan yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, agama, dan kebudayaan. Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan Buddha, sedangkan Majapahit menjadi pusat pendidikan Hindu-Buddha, yang menekankan toleransi dan kebebasan beragama.
Pendidikan pada masa kerajaan-kerajaan ini bukan sekadar proses pembelajaran formal seperti yang kita kenal sekarang, tetapi merupakan bagian dari struktur sosial dan budaya yang lebih luas. Sistem pendidikan yang ada di kedua kerajaan mencerminkan pandangan masyarakat terhadap agama, moral, serta pentingnya ilmu pengetahuan.
Pendidikan di Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya, yang berdiri sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13, merupakan kerajaan maritim yang terletak di wilayah Sumatra. Sriwijaya dikenal sebagai pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara, terutama aliran Mahayana. Hal ini tercermin dalam sistem pendidikannya yang menekankan pengajaran agama, meditasi, serta ilmu sastra dan filsafat.
Para pendeta dan guru di Sriwijaya memainkan peran penting dalam mengajarkan ajaran Buddha kepada murid-muridnya. Lembaga pendidikan terkenal pada masa itu adalah Vihara, yang bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat belajar dan penelitian. Vihara di Sriwijaya sering menjadi tempat bagi pelajar dari seluruh Asia Tenggara bahkan India dan Tiongkok untuk belajar agama Buddha, bahasa Sanskerta, dan literatur keagamaan.
Pendidikan di Sriwijaya tidak terbatas pada agama semata. Para murid juga mempelajari astronomi, matematika, dan ilmu kedokteran. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Sriwijaya bersifat holistik, menggabungkan ilmu spiritual dan pengetahuan duniawi. Selain itu, kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa Sanskerta dan Melayu Kuno menjadi salah satu fokus utama, karena bahasa ini digunakan dalam naskah-naskah keagamaan dan administrasi kerajaan.
Salah satu tokoh terkenal yang terkait dengan pendidikan Sriwijaya adalah Dharmakirti, seorang biksu dan guru yang dikenal mendalami filsafat dan logika Buddha. Melalui sistem pendidikan ini, Sriwijaya mampu menjadi pusat penyebaran ilmu dan ajaran Buddha yang berpengaruh hingga ke seluruh Asia Tenggara.
Pendidikan di Majapahit
Berbeda dengan Sriwijaya, kerajaan Majapahit, yang berdiri pada abad ke-13 hingga abad ke-16 di Jawa Timur, mengembangkan sistem pendidikan yang lebih inklusif. Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang menganut Hindu-Buddha, namun tetap menekankan kebebasan beragama dan toleransi.
Sistem pendidikan Majapahit juga banyak berkaitan dengan kehidupan istana dan masyarakat umum. Pendidikan di istana biasanya diberikan kepada para pangeran dan bangsawan, yang mempelajari ilmu kenegaraan, strategi perang, filsafat Hindu-Buddha, sastra, serta etika dan moral. Selain pendidikan istana, masyarakat biasa juga memiliki akses terhadap pendidikan melalui pesantren agama, pura, dan sanggar seni.
Pendidikan di Majapahit menekankan integrasi ilmu agama dan ilmu duniawi. Misalnya, selain mempelajari kitab suci dan ritual Hindu-Buddha, murid-murid juga belajar astronomi, matematika, seni, dan kesusastraan. Hal ini menunjukkan bahwa Majapahit menekankan pendidikan yang holistik, mirip dengan Sriwijaya, tetapi dengan pendekatan yang lebih pluralistik.
Toleransi beragama menjadi salah satu ciri khas pendidikan Majapahit. Banyak catatan sejarah menyebutkan bahwa meskipun kerajaan menganut Hindu-Buddha, pendeta dan guru dari berbagai latar belakang agama dapat belajar dan mengajar di lingkungan kerajaan. Sistem ini menciptakan harmoni sosial dan mendorong pertukaran pengetahuan lintas budaya.
Perbandingan Sistem Pendidikan Sriwijaya dan Majapahit
Jika dibandingkan, pendidikan di Sriwijaya lebih terfokus pada agama Buddha dan penyebarannya, sedangkan pendidikan di Majapahit bersifat lebih inklusif dan pluralistis. Kedua kerajaan menekankan pentingnya guru sebagai pusat pendidikan. Guru atau pendeta di Sriwijaya dan Majapahit tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membimbing moral, etika, dan spiritualitas murid.
Selain itu, kedua kerajaan menekankan literasi dan penulisan. Naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Sanskerta, Melayu Kuno, atau Jawa Kuno menjadi bukti pentingnya pendidikan tulis pada masa itu. Di Sriwijaya, literatur terutama berkaitan dengan agama Buddha, sedangkan di Majapahit, literatur mencakup agama, sastra, hukum, dan etika sosial.
Kebebasan beragama yang diterapkan Majapahit memberikan nilai tambah dalam pendidikan. Siswa dari berbagai latar belakang dapat belajar tanpa diskriminasi, sehingga ilmu pengetahuan dan seni berkembang lebih luas. Hal ini berbeda dengan Sriwijaya, yang lebih fokus pada konsolidasi ajaran Buddha, meskipun tetap menerima murid dari berbagai wilayah Asia Tenggara.
Peran Guru dan Lembaga Pendidikan
Di kedua kerajaan, guru memainkan peran yang sangat penting. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing moral dan spiritual. Mereka mengajarkan murid untuk berpikir kritis, memahami nilai-nilai etika, dan menguasai ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Lembaga pendidikan di Sriwijaya berupa vihara, sedangkan di Majapahit berupa pura, pesantren, dan sanggar seni. Vihara di Sriwijaya menjadi pusat pendidikan yang juga berfungsi sebagai tempat penelitian dan meditasi. Sementara itu, di Majapahit, pendidikan di pura dan pesantren lebih menekankan integrasi agama, seni, dan keterampilan praktis.
Selain guru dan lembaga, murid juga memiliki peran aktif. Pendidikan tidak bersifat pasif; murid diajarkan untuk menghafal, memahami, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam tugas kenegaraan. Sistem ini menekankan pembelajaran berkelanjutan, di mana murid terus belajar dari guru, sesama murid, dan pengalaman hidup.
Dampak Pendidikan terhadap Masyarakat dan Peradaban
Sistem pendidikan yang diterapkan oleh Sriwijaya dan Majapahit memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat dan peradaban Nusantara. Pendidikan di Sriwijaya membantu penyebaran ajaran Buddha dan memperkuat hubungan antarwilayah di Asia Tenggara. Sementara itu, pendidikan di Majapahit menekankan pluralisme, seni, dan tata negara, yang mendorong terciptanya masyarakat yang berbudaya, terampil, dan toleran.
Selain itu, pendidikan di kedua kerajaan memperkuat identitas kebudayaan Nusantara. Bahasa, sastra, seni, dan pengetahuan yang dikembangkan melalui pendidikan menjadi warisan budaya yang bertahan hingga kini. Bahkan banyak naskah dan prasasti yang menjadi sumber utama bagi peneliti untuk memahami sejarah dan pendidikan pada masa itu.
Pendidikan juga berperan dalam menciptakan pemimpin dan tokoh intelektual. Para pangeran dan bangsawan yang belajar di istana Majapahit atau di vihara Sriwijaya tidak hanya menjadi pemimpin politik, tetapi juga pembawa ilmu, budaya, dan nilai moral bagi masyarakat. Sistem ini memastikan kesinambungan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Nusantara.
Kesimpulan
Pendidikan pada masa Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Nusantara bukan hanya pusat kekuasaan politik dan ekonomi, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sriwijaya menonjol sebagai pusat pendidikan Buddha, menekankan pengajaran agama, sastra, dan ilmu pengetahuan spiritual serta duniawi. Majapahit, di sisi lain, menekankan pendidikan Hindu-Buddha dengan pendekatan pluralistis, memadukan agama, seni, ilmu pengetahuan, dan toleransi beragama.
Guru, murid, dan lembaga pendidikan pada kedua kerajaan memainkan peran penting dalam menjaga kualitas pendidikan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Sistem ini tidak hanya mencetak generasi terdidik, tetapi juga membentuk masyarakat yang berbudaya, toleran, dan berperadaban tinggi.
Warisan pendidikan Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan bahwa pendidikan di Nusantara selalu berakar pada integrasi agama, ilmu, dan nilai moral, sekaligus mendorong pluralisme dan toleransi. Warisan ini tetap relevan sebagai inspirasi bagi perkembangan pendidikan modern di Indonesia.
